Make your own free website on Tripod.com

                        PENANGANAN DAN PROCESSING KOMODITAS

 

 

Penanganan dan processing komoditas termasuk pemanenan, pengeringan, pengangkutan dan penyimpanan, pembersihan dari kotoran dan penggilingan mempengaruhi populasi serangga pascapanen.  Penggunaan mesin pemanen (pada gandum) meningkatkan biji rusak sehingga meningkatkan peluang infestasi.  Pengeringan berarti kadar air turun sehingga serangan hama juga menurun, namun bisa juga terjadi pecah (cracking) pada biji sehingga membuka jalan bagi infestasi hama.  Pengangkutan dan penyimpanan juga mempengaruhi populasi hama.  Hama gudang diketahui bisa bertahan pada sisa- sisa makanan di peralatan transportasi.  Gudang sistem curah biasanya lebih aman dibanding karung tumpuk.  Penampian atau dengan blower dan vibrator yang dimaksudkan untuk membersihkan biji dari kotoran juga dapat memisahkan hama dari biji.  Beberapa serangga masih dapat hidup setelah proses penggilingan (gandum).  Secara umum biji yang sudah digiling relatif rentan terhadap serangan hama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            SENYAWA KIMIA (BEHAVIOR-ELICITING CHEMICALS)

Yang dimaksud adalah senyawa kimia yang berperan dalam perilaku dan interaksi serangga di penyimpanan.  Semua spesies serangga di penyimpanan kemungkinan memanfaatkan senyawa kimia untuk menemukan tempat sumber makanan, pasangan seksual dan lokasi peletakan telur.  Senyawa kimia yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan tersebut ada beberapa macam.

 

 

Dari komoditas

Berbagai bahan simpan melepaskan senyawa volatil yang dijadikan penanda keberadaan pangan atau lokasi peletakan telur oleh serangga pascapanen.  Uniknya, banyak komoditas yang memiliki senyawa volatil yang mirip, meliputi alkohol, aldehid, asam lemak, keton, ester, terpenten dan senyawa heterosiklik.  Barangkali hal tersebut memberikan kontribusi terhadap perilaku hama pascapanen yang dapat hidup pada beragam inang.  CO2 dan H2O juga diproduksi terus menerus oleh biji-bijian, sehingga timbul dugaan bahwa kadar CO2 dan H2O juga menjadi pertanda bagi hama pascapanen.

Feromon

Yaitu senyawa kimia yang dihasilkan oleh satu spesies untuk komunikasi anatarindividu dalam spesies tersebut. Disebut feromon seks bila berhubungan dengan proses perkawinan.  Feromon jenis ini dilepaskan oleh satu jenis kelamin saja (misalnya betina) dan hanya bisa direspon oleh jenis kelamin lainnya (misalnya jantan).  Biasanya ditemukan pada spesies yang imagonya hidup singkat, seperti kelompok ngengat. 

Ada lagi feromon yang berguna untuk penanda berkumpul bagi spesiesnya.  Feromon ini disebut feromon agregat dan biasanya dilepaskan oleh individu jantan saja tetapi bisa direspon oleh serangga jantan dan betina.  Feromon jenis ini diproduksi oleh serangga yang hidup lama, misalnya kumbang.

Feromon jenis lain merupakan penanda wilayah/teritorial bagi masing-masing individu.  Beberapa larva ngengat menandai wilayah penguasaan pangan dan lokasi berpupanya.  Kumbang Callosobruchus menandai biji yang telah menjadi peletakan telurnya dengan senyawa kimia supaya tidak digunakan oleh individu lain. Tribolium dapat memproduksi senyawa quinon yang berguna untuk mengusir individu lain (terutama dalam kepadatan tinggi) atau untuk pertahanan. 

3.     DINAMIKA POPULASI

Pengetahuan tentang berbagai faktor yang mempengaruhi populasi serangga hama di penyimpanan dapat dipergunakan untuk menduga dinamika populasi hama pascapanen.  Keberadaan program komputer sangat membantu untuk melihat dinamika populasi ini terutama terkait dengan tindakan pengendalian yang tepat. 

3.1.SUMBER INFESTASI

Selain laju pertumbuhan intrinsik (r) dan waktu (t), penentu populasi serangga di penyimpanan adalah populasi awal yang berasal dari berbagai sumber infestasi.

Infestasi dari Lapang

Infestasi dari pertanaman sebelum panen biasanya terjadi pada serangga infestor internal/kelompok penggerek karena infestor eksternal biasanya terdeteksi saat penanganan.  Contoh serangga yang menginfestasi dari lapang adalah Callosobruchus, Sitotroga, Sitophilus, Phthorimaea dan Cylas.

Infestasi Populasi Residu

Serangga yang bertahan hidup pada sisa-sisa biji yang ada di gudang, peralatan maupun sarana pengangkutan disebut populasi residu.  Pada saat ketersediaan bahan pangan kembali melimpah, populasi ini dapat menjadi sumber infestasi.  Karena itu, sanitasi memegang peranan penting untuk menekan sumber infestasi ini.

Infestasi dari Populasi yang Bertahan pada Inang Liar atau dari Migrasi Jarak Jauh

Sejumlah serangga pascapanen telah beradaptasi untuk dapat berkembang biak pada berbagai inang liar, mampu terbang jauh, atau makan bunga untuk meningkatkan lama hidup dan fekunditasnya.  Sitophilus mampu terbang sejauh 400 m.  Callosobruchus ditemukan pada legum liar.  Sitophilus ditemukan hidup pada bunga matahari.  Sejumlah serangga (Rhyzopertha, Sitophilus, Oryzaephilus dan tribolium) ditemukan di sarang tikus dan semut.  Walau demikian, populasi ini sebenarnya adalah serangga yang bermigrasi dari habitat lain.

Infestasi dari komoditas lain

Bahan simpan lain yang terserang adalah sumber infestasi penting karena kemampuan serangga beremigrasi.  Pengendalian pada bahan simpan yan gtelah terserang mutlak diperlukan untuk mencegah penularan ke bahan simpan baru.

3.2 PERTUMBUHAN POPULASI

Sebagian besar serangga pascapanen mampu melipatgandakan jumlahnya dalam waktu singkat.  Pada awal pertumbuhan, pertumbuhan populasi berpola eksponensial yang dapat ditunjukkan dengan persamaan

            Nt= N0 ert ,

dengan Nt adalah jumlah serangga pada waktu t, N0 adalah jumlah serangga saat awaldan r adalah laju pertumbuhan intrinsik (lihat gambar di bawah). Namun, pola pertumbuhan ini akhirnya akan mencapai batas atasnya karena tingkat ketersediaan makanan dan kompetisi intraspesifik.  Batas atas itu disebut daya dukung lingkungan atau biasa dilambangkan dengan huruf K (lihat gambar di bawah).  Dengan demikian, persamaannya berubah menjadi

           

Pada bahan simpan, K tidak konstan, akan menurun bila makanan mulai habis.  Akibatnya, populasi pun akan menurun karena kompetisi dan keterbatasan makanan.  Pada saat seperti ini, sebagian serangga cenderung untuk bermigrasi. 

Pengendalian hama sebenarnya dapat didasarkan pada manipulasi faktor-faktor pertumbuhan populasi ini.  Misalnya:

          Memperkecil nilai N0, yaitu populasi awal yang ada di penyimpanan.  Caranya dengan mencegah infestasi dari lapang, mencegah migrasi dari luar, dan menjaga kebersihan gudang sebelum digunakan. 

          Memanipulasi t (waktu), yaitu tidak menyimpan bahan simpan dalam waktu lama.  Sedapat mungkin diatur mekanisme fist in first out

          Laju pertumbuhan intrinsik (r) dapat diperkecil dengan menekan laju perkembangan, misalnya dengan perlakuan suhu rendah

          Menurunkan K (daya dukung lingkungan), yaitu membuat lingkungan yang tidak sesuai bagi serangga hama.  Misalnya melakukan aerasi, mengatur kelembaban, introduksi musuh alami, dan melakukan pengendalian kimiawi. 

Saat ini, telah banyak dikembangkan model simulasi komputer yang lebih akurat dan fleksibel untuk memperkirakan dinamika populasi serangga hama gudang.  Contohnya adalah model untuk Cryptolestes, Tribolium, Sitophilus, Rhyzopertha dan Oryzaephilus.

 

 

 

 

 

 


 



 

 

 

 

insect population (9kb)Insect population growth in a restricted environment without food replenishment (Haines, 1991)